Translate

October 22, 2016

Pendekar Rajawali Sakti - Bidadari Sungai Ular

1

Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru.


Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di punggungnya.
Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panji Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak.

(Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak).

"Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat.

Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai.

Bibirnya tersenyum ketika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur.

"Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya.

Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya

"Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang.

Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi

kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada
gerombolan Saka Lintang.

"Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras.

Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anak-anak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan.

Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu.

"Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring.


Mendengar aba-aba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan mereka sangat ringan dan cepat. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. 


EmoticonEmoticon